Showing posts with label BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label BUDAYA. Show all posts

10 March 2012

HARI SUCI NYEPI


Hari Suci Nyepi

Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga pada tanggal 1 sasih Kedasa. 

Arti Perayaan Hari Raya Nyepi:
Hari Raya Nyepi
Nyepi adalah pergantian tahun Çaka.
Rangkaian Perayaan Nyepi adalah :Tawur, Melelasti, Amati Geni / Sipeng, dan Ngembak Geni

Tawur
Tawur adalah : Penyucian/ pemarisudha bhuta kala yang dalam pemujaan dimurtikan, setelah diberi tawur menjadi somiya.
Ngerupuk adalah lanjutan daripada pelaksanaan tawur yang dilaksanakan di tiap- tiap pekarangan rumah.
Pelaksanaan Tawur:
Kontroversi:
  • Menurut Sundarigama tawur, diadakan pada perwanining tilem kesanga.
  • Menurut Swamandala, tawur diadakan pada tilem kesanga, tidak membenarkan berlakunya pada perwaninya. Selanjutnya Swamandala tidak membenarkan dilaksanakannya tawur pada waktu cetramasa, apabila kebetulan jatuh sesudah wuku Dungulan, sebelum Budha Keliwon Pahang, oleh karena itu tawur tersebut dilakukan pada Tilem Kedasa.
  • Kemudian Widhi Sastra dalam lontar Dewa Tattwa Niti Bhatara Putrajaya, memperkuat Swamandala. Rupanya sesudah Budha Keliwon Dungulan sampai dengan Budha Keliwon Pahang adalah somiyanya Bhatari Durgha, sebab itu tidak baik melaksanakan tawur, karena tawur adalah untuk Durgha Murti.

Melasti
Melasti = melelasti = nganyudang malaning gumi ngamet Tirta Amerta. Menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan. Segara (laut) dianggap sebagai sumber Tirtha Amertha (Dewa Ruci, Pemuteran Mandaragiri).
Selambat- lambatnya pada tilem sore, pelelastian harus sudah selesai secara keseluruhan, dan pratima yang disucikan sudah harus berada di bale agung.

Berata Penyepian
Amati GeniTidak menyalakan api. Anyekung Jnana Sudha Nirmala untuk menghadapi tahun baru (pergantian tahun).
Amati KaryaTidak bekerja/ menghentikan kerja
Amati lelunganTidak bepergian
Amati lelanguanTidak melampiaskan/ indrya
Berlaku mulai sebelum matahari terbit (ngedas lemah).

Ngembak Geni / Ngembak Api
Ngembak geni/ ngembak api miwah ngelabuh Berata pada tanggal 2 (kalih) sasih Kedasa (ngedas lemah).


Kegiatan dalam menyambut Hari Raya Nyepi ini ada dua macam yaitu:
1Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem) melaksanakan upacara Bhuta Yadnya (mecaru).
2Pada hari raya Nyepi yaitu awal tahun baru Saka yang jatuh pada tanggal 1 sasih Kedasa dilaksanakan upacara Yoga Samadhi.

Ada empat berata pantangan yang wajib diikuti pada saat hari raya Nyepi, disebut Catur Berata Penyepian, yaitu:
1Amati Geniberpantang menyalakan api
2Amati Karyamenghentikan aktivitas kerja
3Amati Lelanguanberpantang menghibur diri / menghentikan kesenangan
4Amati Lelungaanberpantang bepergian

Dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini kita mengadakan mawas diri, menyatukan pikiran, serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri kita dan inti sari kehidupan semesta. Lakukan Berata penyepian upawasa (tidak makan dan minum), mona brata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur).
Keesokan harinya yaitu hari raya Ngembak Geni, segenap isi rumah keluar pekarangan dan bermaaf-maafan dengan tetangga dan handai tolan yang ditemui, dalam suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.


Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia

  1. Pendahuluan.
    1. Pengertian
      Hari raya Nyepi adalah perayaan hari tahun baru saka yang jatuh pada penanggal apisan sasih Kedasa (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah tilem Kesanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra).
    2. Hakekat.
      Penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/ keindahan).
  2. Latar belakang sejarah.
    1. Penobatan Raja Kaniskha I.
      Tahun baru çaka mulai diresmikan pada penobatan raja Kaniskha dan dinasti Kushana pada tahun 78 Masehi.
    2. Tahun çaka di Indonesia.
      Pada zaman dahulu, berdasarkan berbagai daftar prasasti hanya dikenal tahun çaka saja. Menurut Negarakertagama, pada zaman Majapahit pergantian tahun çaka (bulan Caitra ke Waisaka) dirayakan secara besar-besaran.
  3. Rangkaian hari raya Nyepi.
    1. Melasti.
      Melasti disebut juga melis atau mekiyis bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya dapat dilakukan di laut, danau, dan pada sumber/ mata air yang disucikan. Bagi pura yang memiliki pratima atau pralingga seyogyanya mengusungnya ke tempat patirtan tersebut di atas. Pelaksanaan secara ini dapat dilakukan beberapa hari sebelum tawur.
    2. Tawur.
      Upacara tawur bertujuan untuk menyucikan dan mengembalikan keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit baik sekala maupun niskala. Upacara ini dilakukan pada sandikala (pagi, tengah hari, sore). Tilem Caitra, sehari sebelum hari raya Nyepi.
      Catatan :
      Ketentuan upakara atau sesajen melasti dan tawur di atas melengkapi ketetapan- ketetapan pelaksanaan Nyepi terdahulu, yang disesuaikan dengan desa, kala, patra, (daerah/ tempat, waktu, dan keadaan).
    3. Hari raya Nyepi.
      Sesuai dengan hakekat hari raya Nyepi maka umat Hindu wajib melaksanakan catur brata nyepi.
    4. Ngembak Geni.
      Hari Ngembak Geni jatuh sehari setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi.
      Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma santi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
  4. Brata hari raya Nyepi.
    Sesuai dengan hakekat hari raya Nyepi tersebut di atas, maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan catur brata Nyepi, sebagai berikut :
    1. Amati Geni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.
    2. Amati karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.
    3. Amati lelungaan, yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri.
    4. Amati lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi.
    Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari "Prabrata" fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24 jam).
  5. Dharma Santi.
  1. Lingkungan keluarga.
    Dharma Santi dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam keluarga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru dan terbinanya kerukunan dan perdamaian. Pelaksanaan dharma santi ini dapat dilaksanakan pada hari Ngembak Geni dan beberapa hari sesudah itu.
  2. Masyarakat.
    Dharma santi dengan lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan: Dharma wacana, dharma gita (lagu- lagu keagamaan/ kidung, kekawin, pembacaan sloka, dharma tula (diskusi) persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan, serta memberikan "punia" kepada yang patut menerimanya,
»»  Read More...

06 February 2012

CERITA TENTANG DRAMA UAS



Oke,..Akhirnya gw mood buat ngetik lagi, hari ini 29 Januari 2012, gw bukan Addie yang suka ngetik isi buku Minna no Nihongo yang kemudian diposting di blog, Hari ini gw juga bukan Addie yang suka update status FB yang aneh-aneh dan twit absurd yang intens menodai timeline followers gw yang gak begitu banyak.
Kenapa gw tiba-tiba pengen ngetik lagi?? *Timbul Pertanyaan??
Ini dikarenakan dan disebabkan comment FB gw yang ga dibales ma doi,..LLEEEBBBAAAYYYY…..,
Yaudah,..hari ini gw mau cerita tentang suatu kegiatan di kampus yang disebut sebagai SENI PERAN.. Oyaa,..Gw kuliah di salah satu Sekolah Tinggi di Denpasar, Bagian dari Yayasan Saraswati kalo gak salah, namanya STIBA saraswati, itu letaknya deket-deket Kreneng, kebetulan gw ngambil jurusan Kreneng – Batubulan.
Sebenernya SENI PERAN *dari sini gw singkat menjadi DRAMA* ini adalah tugas yang dikasi sama salah seorang dosen gw yang mengajar mata kuliah KAIWA, beliau adalah Ibu Pasti Arini. Seorang dosen cantik yang menurut gw orangnya ramah, suka senyum dan keibuan. Namanya juga ibu-ibu. Beliau membagi kelas yang beranggotakan 43 orang, 13 batang laki-laki dan sisanya perempuan (kalo ga salah, belum sempet ngitung) menjadi 2 kelompok. Jadi masing-masing kelompok mendapat anggota sebanyak…… tunggu, ambil kalkulator dulu. Cakcekcakcek,…. 20 orang. (maklum, anak sastra).
DRAMA ini dipentaskan pas UAS untuk mendapat nilai. Ya itung-itung ujian gitu lah,… Temen gw, yang seorang cewek, ya sebutlah semi cewek, soalnya doi anaknya tomboy abisss… inisialnya  Ria, doi dipilih jadi ketua, mungkin karena doi emang orangnya pinter dan aktif, atau mungkin juga karena doi emang udah ketuaan. Hahahaaa… damai kawan!
Setelah beberapa lama berembug pas pulang kuliah, kita sepakat untuk mengambil tema ROMEO & JULIET.  Awalnya mau cerita tentang kerajaan gitu, tapi karena ada beberapa halangan dan rintangan dan aspirasi dari teman-teman, setting dirubah menjadi Drama Musical. Dan hampir semua setuju, begitupun gw. Walaupun sebenernya gw gak tau apaan yang disebut sebagai,..apa itu tadi???
Gw kira Drama musical itu adalah Drama yang disertai gerakan lemah lembut yang dipadu dengan irama dialog mengayun dan music yang mendayu. Dan gw emang gak jadinya bakal kayak gimana.
Yahhh… gw yakinkan saja semuanya pada temen-temen gw yang kreatif, handal dan terpercaya ini. Pembagian tugaspun dimulai. Ada yang jadi seksi kostum, seksi perlengkapan, audio, bendahara dan apalah itu yang sejenisnya. Gw dapet seksi property dan jadi ketua pula, mungkin ini Cuma gara-gara tampang gw yang emang ketuaan. Dan emang rada seksi… eeh??
Oke,.. singkat cerita dialog sudah selesai dibuat, gw kebagian jadi seorang sensei bersama seorang sensei cewek yang nantinya jadi pasangan gw di drama itu. Gw sih berharapnya doi jd pasangan di hidup gw selamanya,.. wakkkkkk,…ini bukan curhat yahhh…
Oke balik ke realita, dialognya sebanyak 29 lembar, itu bahasa Jepang semua. Setelah mencoba proses reading, ada beberapa kejanggalan yang terjadi, dialog yang seharusnya Cuma 30 menit malah jadi lebih dari 1 jam. Cerita yang seharusnya mudah dipahami malah jadi gak karuan. Mungkin itu juga gara-gara gw yang bodoh :D. SIngkat cerita lagi, gw lupa ada apa lagi. Yang jelas akhirnya ada perubahan mendasar sama Drama ini, yang diusulkan sama temen gw yang emang kreatif, Gusde. Itu drama akhirnya mengalami dekompresasi atau reduksi atau penyusutan atau sebut saja pemendekan. Dan untuk memperjelas cerita, semua peristiwa dibagi ke dalam scene-scene yang lebih mudah dicerna. Nanti gw upload deh script-nya, buat kenang-kenangan di masa depan ^^. Setelah mengalami pemendekan, dialognya menjadi hanya 19 halaman dengan durasi tidak lebih dari 50 menit.
Ini ceritanya tentang sebuah sekolah yang dihuni berbagai type dan spesies anak manusia. Dalam suatu kelas pada suatu hari kedatangan seorang anak baru yang bernama Yuri Sukanari yang diperankan oleh temen gw yang namanya Novi, emang suka nari.  Doi baru datang dari Inggris. Di kelas juga ada anak yang namanya Romi Imasuka, diperankan sama Wenten, jadi wenten =imasu. Dalam sebuah kesempatan, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya dan akan menyelenggarakan sebuah Drama yang dikasi judul “ROMEO AND JULIET”. Dengan itu, mengadakan sebuah audisi buat nyari pemeran utamanya. Tapi udah ketauan banget sih ya, siapa yang bakal jadi pemeran utamanya. Yang ikut audisi itu ada 6 orang. Yuri(Novi), Romi(Wenten), Utada(Wiri), Tori(Putra), Yuki (Maherna) dan Ayumi (Ria). Dan akhirnya yang kepilih Yuri sama Romi. Utada yang tidak terima dan juga tuntutan peran antagonis, menyusun rencana buruk. Dan gw lupa ceritanya :D. Pokoknya nantinya happy ending deh.
Ini drama juga ada dance-dance gitu,. Salut deh sama Novi buat koreonya yang keren abisss…., jadi kayak girlband and boyband korea gitu. Tapi gw sebagai sensei tentunya ga boleh donk ikut yang kayak ginian, nanti pamor gw jatuh. Akhirnya gw kebagian ngedance sama Suzuki sensei yang gw ceritain di atas.
Nehh khannn,… Kalo uda ngomongin doi, gw jadi lupa mau ngetik apa lagi,..
Kapan-kapan gw lanjut deh cerita tentang Drama ini kalo udah inget lagi.
----------------------------------------------------------------
Hari ini 6 Februari jam 21.37PM di computer gw, gak tau bener apa nggak. Yang jelas gw udah sering diboongin sama nie computer.
Nah,…setelah hampir seminggu tulisan ini gw tinggalkan,,,malem ini gw lanjut lagi. Mumpung gak ada kerjaan. Lagi Galau dikit.
Oke,..beberapa hari lalu gw udah Tanya ke salah seorang temen gw tentang kelanjutan cerita Drama di atas. Tapi dia gak inget,karena udah saking lamanya,…iya juga sih, udah berabad-abad yang lalu kayaknya. *efek libur kuliah*
Yaudah sih ya,…gw slesein aja tulisan ini sampe disini. Anggep sebagai “PROYEK GAGAL” gitu lah.
“JANGAN MENUNGGU BESOK UNTUK MENYELESAIKAN SUATU PEKERJAAN YANG BISA KAMU SELESAIKAN SEKARANG,KARENA SETELAH BESOK MASIH ADA BESOKNYA LAGI, DAN BESOKNYA, DAN BESOKNYA, DAN BESOKNYA, DAN BESOKNYA, DAN BESOKNYA, DAN BESOKNYA, dan seterusnya……..”
-dikutip dari “AddieCGX-Diary Gagal”
*catatankaki: buat temen2 yang kesebut namanya, jangan tersinggung yaa,apalagi marah. ^^v
»»  Read More...

04 October 2011

SEJARAH DESA SUKAWATI


Menurut babad timbul Sukawati, bahwa sekitar abad XVIII, adalah seorang bernama Ki Balian Batur, Ia bersama anak istrinya bertempat tinggal di pesisir pantai di sebut Karang Kedangkan (kini desa Rangkan). Ki Balian Batur bersama istrinya dan semua anaknya dikenal sebagai penganut ilmu hitam (Ngliyak).
Pada suatu hari salah seorang anaknya bernama Ni Made Wali menjual nasi dengan lauk pauk lawar, sate dan sejenisnya, di sebuah sabungan ayam (tajen) di desa Cau sebelah timur desa Rangkan. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpura-pura mabuk mengatakan lawar yang dijual Made Wali itu adalah lawar daging orang. Mereka yang mendengar kata-kata itu semua pergi tidak jadi membeli nasi pada Made Wali. Made Wali malu dan bersedih hati, lalu segera pulang mengadukan hal itu kepada ayah dan ibunya. Ki Balian Batur dan istrinya amat marah dan bersepakat akan mengancurkan desa Cau dan membunuh semua penduduknya dengan kesaktian ilmu hitamnya.
Benarlah, tidak selang beberapa lama penduduk desa Cau terkena wabah penyakit menular (Grubug), sehingga banyak yang meninggal. Hal itu  dilaporkan kepada Ida Cokorde Sakti Belambangan Raja Mengwi, oleh pemuka desa. Raja Mengwi marah, lalu menghimpun para penganut ilmu hitam Mengwi untuk menyerang Ki Balian Batur di Karang Kedangkan. Pada suatu malam gelap bulan terjadilah peperangan penganut ilmu hitam Mengwi melawan penganut ilmu hitam Karang Kedangkan, yang akhirnya kekalahan ada di pihak Mengwi.
Mengethaui hal itu raja memerintahkan menyerang Ki Balian Batur dengan kekuatan Senjata, dibawah pimpinan Bendesa Sukra. Namun laskar kerajaan Mengwi mejnemui kekalahan lagi. Karena mabuk kemenangan KI Balian Batur bersorak terkebur, serta mengatakan ia tidak terkalahkan oleh senjata apapun da ilmu apapun juga kecuali senjata milik Raja Klungkung yang disebut Ki Seliksik Narantaka. Hal itu dilaporkan kepada raja oleh KI Bendesa Sukra, serta berlanjut agar Ki Raja Mengwi meminjamkan sebjata pemungksa itu kepada raja Klungkung. Tetapi raja Mengwi keberatan mengingat hubungan Mengwi dan Klungkung tidak serasi akibat percekcokan pendahulu-pendahuluya kerajaan dahulu. KI bendesa Sukra bersikeras agar raja Mengwi melakukan hal itu, demi kepentingan rakyat banyak. Akhirnya raja setuju.
Atas permohonan raja Mengwi, Raja Klungkung berkenan meminjamkan Ki Selisik Narantaka, yang akan dilaksanakan oleh putra bungsu beliau bernama Dewa Agung Anom Sirikan. Singkat cerita, dikisahkan Ki Balian Batur gugur dalam peperangan akibat tuahnya Ki Selisik Narantaka. Sebagai ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Sang Hyang Parama Kawi, Raja Mengwi membangun sebuah pura di Karang Kedangkan disebut Urya Kusuma dan kepada Bendesa Sukra diberi gelar Ki Bendesa Gumiyar dan hadiah harta benda lainnya, bersama laskarnya yang masih hidup. Yang gugur jenasahnya diupacarai sepatutnya.
Sebagai wujud rasa terima kasih dan atas perkenan raja Klungkung Dewa Anak Anon Sirikan dibuatkan puri di kawasan Timbul oleh raja Megwi, serta tempat persembayangan disebut Pura Penataran Agung, yang disungsung oleh raja dan senegap rakyatnya. Lama kelamaan semakin banyak pedagang (Pengalu) menetap di kawasan Timbul. Semua mereka mengatakan suka hatinya tinggal disana. Lama kelamaan kawasan Timbul berubah menjadi Sukahati, yang kemudian sesuai hukum bahasa, berubah menjadi Sukawati hingga sekarang. Selanjutnya Dewa Agung Anom Sirikan dinobatkan menjadi Raja Sukawati, batas sebelah sungai pekerisan, sebelah barat sungai Ayung membujur dari pantai selatan hingga tepi danau Batur. Kini ibu kota kerajaan menjadi desa Sukawati.
»»  Read More...

BHAGAWAN DOMYA


Kacrita wenten ida sang pandita, sane mapesengan Bhagawan Domya, Pasraman idane ring jagat Ayodya. Ida madruwe sisya tigang diri sane mapesengan, Sang Utamanyu, Sang Arunika miwah Sang Weda.
Makatatiga tureksain ida, napi ke murid-murid idane suyakti bhakti ring guru. Tata caran ida rikala nureksain, Sang Arunika kapandikayang makarya ring carike, sadurunge ida Sang Guru micayang kaweruhan indik kadharman. Dawning asapunika wacanan Ida Dang Guru, Sang Arunika ngemargiang sapari polah makarya ring sawah.
Sang Arunika nandur pantun ring carike, risampun lanus entik pantune, rauh sabeh bales pisan sane kadulurin blabar ageng, embid puindukan carike. Antuk ajerih idane pantune kalancah antuk toyane ageng, empelin ida toyane punika, during suwe empelane punika malih embid, malih empel ida malih embid. Duaning asapunika kawentenannyane rumase bingung Ida Sang Arunika tan uning sane patut kalaksanayang.
Selanturnyane anggan idane kaanggen ngempel, raris ida nyeempang ring toyane. Nyantos rahina wengi. Paindikan punika kaaksi Sang Arunika antuk Bhagawan Domya, raris ngandika ; Cening Sang Arunika matangi idewa dahating pageh cening ngelaksanayang bawos bapane nyantos idewa ngempel toyane antuk ragan ceninge. Jani bapa ngemaang cening adan. Sang Udalaka, sawireh cening ngempelang ragang ceninge ring yehe.
Malarapan bhaktin ceninge ring guru, cening lakar mangguhang kasukan sekala sidhi mantra, sandi ngucap. Sane mangkin Sang Utamanyu sane tureksain ida, kapangandikayang ngangonang lembu, raris Ida Sang Utamanyu nganggon. Sajeroning Ida nganggonang lembu raris ida kaluwen punika mawinang ida ngagendong utawi idih-idih, utamipun ngidih ajengan  angen ida pangupajiwa rikala ida ngagon. Sakewanten pikolih idane nenten katurang ring Ida Dang Guru, indike punika kawikanin oleih Bhagawan Domya. Raris Ida Bhagawan Domya mawacana, cening Sang Utamanyu ngaturang sembah kadulurin nunas pangampura, duaning pamargin idane iwang.
Benjang semengane, memargi ida ngangon, sambilang ida ngidih-idih. Pikolih punika aturang ida ring guru, sesampune katurang, malih ida ngidih-idih. Kaaksi olih Ida Dang Guru, mingkalihin ida ngidih-idih, raris tan kalugra, dening kabawos lobha. Malih ida ngangon saantukan kaluwene raris ida nayub susu sareng godele ring nyonyan lembune. Katakaning olih Ida Dang Guru napi sane kanggen sangu rikala ngangon.
Matur Sang Utamanyu, titiang masusu ring nyonyan lembune. Ngandika Ida Dang Guru ; cening Sang Uatamanyu sing patut laksanan ceninge buka keto, sawireh nyuwang druwen nabe ento adane, awinan ida wusan nginum susu.
Wenten didih medal saking bungut godele punika dilat ida pinaka sangun ida ngangon. Malih katakenin olih Nabe, ih cening Sang Utamanyu tusing patut ento ajengan cening, pianak lembune nawang cening seduk, malarapan baan kawelasaannyane teken cening, ipun ngutahang pikolihnyane manyonyo. Tusing dadi cening nyuwangin amerthan ia I godel, makelo-kelo bisa berag godele.
Sapunika wacanan Ida Dang Guru, Sang Utamanyu ngaturang sembah tur nunas pengampura. Benjang pasemengan malih ida ngangon, nenten ngajengan. Antuk kaluwen idane, raris ida ngajengan getah daun madori, punika panes pisan., nyusup rawuh ring panyingakan Ida Sang Utamanyu mawastu Ida buta, paling Ida ngeruruh lembune, wenten semer pat irika ida runtuh macelempung. Sesampune sore mawali lembune kekandang nyane nenten wenten ngatehang. Duaning nenten kacingak Sang Utamanyu nguningayang raga buta lantaran ngajengang getah madori. Kapriangenan pisan Ida Peranda Guru ngaksi sisyan ida ngemasin buta sangkaning dahat bhaktin ring sang meraga guru. Raris kaicen ida Sang Utamanyu mantra Aswinodewa, pinaka tamba samangdane wusan ida buta, malih mewali panyingakan idane parai purna, sakadi mula nenten wenten cacadnyane. Sangkaning ketelebang sang Utamanyu dados sisya, ida polih panugrahan kawisesan, kaweruhan olih Ida Bhagawan Domnya.
Selantur ipun ida Sang Weda sane katureksain. Sang Weda kanikain mangda jenek ring pawaregan, ngaturang rayunan Ida Dang Guru nyabran rahina. Melarapan antuk bhaktin Ida Sang Weda ring Dang Guru kadulurin panes tis sarahina pakaryan ida nyodayang rayunan majeng ring Ida Dang Guru turmaning setata ngiring sakancan pituduh sang meraga guru. Raris ida kaicen panugrahan makudang-kudang pangeweruh miwah Weda Mantra.
Risampune Sang Weda molihang panugrahan raris ida mantuk ka patapan idane. Ida uning pisan mangkin ring pakewuhe ngamolihang kaweruhan utawi kawikanan mawinan ida makayun-kayun ring angga. Sapunika daging pakayun ida, yan idewek ngelah sisya, buin maniyan lakar jeg bang iya Sang Hyang Mantra, lakar sing idihin sasari sane patut katur ring sang maraga guru, turmaning lakar tusing tureksain, sekadi Ida Bhagawan Domya nureksain deweke. Mungguing asapunika pakayun Ida Sang Weda.
»»  Read More...

18 February 2011

Kakek Pemekar Bunga

Pada jaman dahulu suatu tempat telah tinggal kakek yang baik hati. Kakek yang baik hati itu telah memelihara anjing yang bernama “Pochi”. Pada suatu hari, Pochi menggonggong di belakang ladang. Kakek pergi melihat si Pochi. [Pochi bilang, “disini...disini...”]. kakek mencoba menggali tempat itu. Keluarlah uang keping emas. Dan disebelah kakek yang baik hati, telah tinggal kakek yang tamak. Karena kakek ya ng baik hati menjadi kaya, membuat tidak tahan dan iri hati si kakek tamak. Lalu kakek tamak ingin meminjam anjing kakek yang bernama Pochi.
Kakek tamak berkata “saya pun ingin diantar memperlihatkan tempat uang keping emas itu”. Tetapi si Pochi diam saja. Lalu kakek tamak memukul si Pochi dengan tongkat. Si Pochi lari ke ladang sambil menangis kesakitan. “Wang....Wang....Wang....”. Lalu kakek tamak menggali di tempat si Pochi menangis. Dan kakek tamak berkata “Oo...disini ada uang keping emas ya....”, lalu kakek tamak menggali keluarlah ular dan hantu. Kemudian kakek tamak marah pada si Pochi lalu memukul dan membubuh si Pochi.
Kakek baik hati khawatir dan datang ke rumah kakek tamak meminta si Pochi. Kakek tamak bilang “Anjing yang jelek itu telah tiada”. Karena menggigit saya maka saya pukul dan telah mati. Lalu kakek yang baik hati mengubur si Pochi di belakang ladang. Kemudian kakek menanam pohon di kuburan si Pochi. Tumbuhlah pohon itu dengan cepat dan ajaib. Kemudian kakek yang baik hati memotong pohon itu dan membuat lesung dari pohon itu. Lalu membuat kue dengan lesung tersebut. Dari kue itu berubah menjadi kepingan emas.
Kakek tamak melihat hal tersebut, lagi meminjam lesung itu. Tetapi setelah membuat kue dari lesung itu, kue itu berubah menjadi arang yang hitam. Lalu kakek tamak marah, membelah dan membakar lesung itu. Kemudian kakek yang baik hati datang untuk meminta lesung itu. Kakek tamak bilang “Lesung itu telah saya bakar”. Tidak bisa bilang apa,kakek baik hati meminta abudari lesung itu. Dan membawanya pulang, ingin menaburkannya di ladang. Lalu abu itu ditiup angin dan tersebar. Kemudian pohon yang mati, mulai bersinar dan bunga sakura bermekaran karena abu itu.
Sang raja penguasa mendengan cerita itu lalu datang ke tempat kakek yang baik hati. Sang Raja bilang “Lakukan saja dan perlihatkan pada kami”. Lalu kakek naik ke pohon yang mati dan menaburkannya, mekarlah bunga pada pohon mati itu. Sang raja gembira lalu diberikanlah si kakek hadiah. Melihat hat tersebut, kakek tamak pun datang membawa sisa abu tersebut dan bilang “akulah kakek yang bisa memekarkan bunga”. Lalu kakek tamak naik ke pohon dan tiba-tiba menaburkan abu, tapi abu itu malah mengenai mata sang raja. Lalu Sang Raja marah, kakek yang tamak yang kerjanya hanya meniru orang lain itu akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Pesan:
よいおじいさん は よろこぶ に なった です が いじわるじいさん は かなしくなた です。 ですから よいこと やって わること やらないで ください。

Kesan:
だれか よいこと やると もちろん いいこと あって わるいこと やると よくないこと あいます。
»»  Read More...

10 March 2010

BABAD MENGWI AKHIR ABAD 14-AKHIR ABAD 17

Pada tahun 1343di mana majapahit berhasil menakklukan bali di bawah pimpinan patih gajah mada dan para arya salah satu yang ikut menggempur bali dari arah selatan { kuta } yaitu arya kenceng yang kemudian oleh patih gajah mada ditugaskan untuk menjaga keamanan daerah bali bagian barat dan tinggal di sebuah desa bernama buahan, bersama arya sentong dan arya belog kaba-kaba serta arya delancang di kapal. Sekitar tahun 1347 M, empat {4}putera puruhito gajah mada yang tertua tinggal menjadi adipati di pasuruan, yang kedua menjadi adipati di blambangan, yang ketiga {wanita} menjadi adipati di sumbawa dan yang keempat menjadi adipati di bali { sri kresna kepakisan } sri kresna kepakisan beristrikan seorang brahmani dari gria ketepengreges pasuruan jatim yang kedua diperistri oleh betara arya kenceng dan yang ketiga diperistri oleh arya sentong. Arya kenceng dengan istri brahmani tersebut mempunyai dua putera :1 gusti raka atau dewa raka atau bergelar sri megada prabu, 2 gusti rai atau dewa rai atau bergelar sri megada nata dari istri kedua yang berasal dari desa tegeh, betara arya kenceng juga berputera dua orang : 1 kyai tegeh kori, 2 istri tegeh { kawin dengan pangeran asak di kapal }. Ketika kerajaan badung dilanda suatu masalah sehingga raja badung { gusti pinatih } meninggalkan badung menuju desa guliang klungklung, maka bendesa mas badung datang menghadap ke pada betara arya kenceng supaya menganugerahkan seorang puteranya untuk di nobatkan sebagai raja badung, maka dari itu arya kenceng menganugerahkan putera yang ketiga yaitu kyai tegeh kori untuk dinobatkan sebagai raja badung dan bila berputera nanti semoga ada yang kembali ke wilayah mengwi maka kyai tegeh kori akhirnya di boyong ke badung oleh bendesa mas dan kemudian bendesa mas mempersembahkan puterinya untuk diperistri oleh kyai tegeh kori sebagai pusat kerajaan ada di wilayah tegal sebelah selata kuburan badung. Kini diceritakan kembali kyai tegeh kori dengan istri bendesa mas berputera dua orang yaitu : 1 kyai gede tegeh dan 2 kyai made tegeh selanjutnya kyai gede tegeh sebagai putera mahkota tetap tinggal di badung namun kyai made tegeh dengan keris I kala tadah pergi kearah utara sampai di mengwi membuat puri dan menjadi raja mengwi sebagai mana pesan kakeknya kepada kyai tegeh kori dengan pebencangah tri mandala maka sebagai seorang raja yang menganut darma agama maka beliau juga membuat tri kayangan namun yang pertama dibuat adalah pura dalem atau oleh beliau disebut pura dalem blerong, barulah kemudian beliau membangun pura desa puseh , pura penataran dalem serta ulun suwi di mana letak pura desa yang pertama di sebelah barat batas desa beringkit dan mengwi. Kyai made tegeh yang kemudian bergelar kyai agung anglurah mengwi I yang berkuasa dari sebelah utara atau barat beringkit sampai di kuwum sembung dengan wilayah yang cukup luas maka banyak rakyat daerah lain datang untuk mengabdi. Sekitar tahun 1408 M kyai made tegeh sebagai raja mengwi bersama kaki twa membangun sebuah pura di pesisir tanah let di atas sebidang batu pipih di bawah pohon kendung sebagai penyiwian jagat { pura subak } sebagai tempat bersemayam hyang sedana tra kemudian pura itu diberi nama pura luhur pekendungan pada masa pemerintahan dalem ketut ngulesir { sri semara kepakisan } yang merupakan pendiri puri gelgel dan masa pemerintahan kyai langwang yang baru memindahkan pusat kerajaan ke tabanan dari buahan. Sekitar tahun 1478 danghyang nirartha datang ke bali pada masa pemerintahan dalem waturengong berkuasa di gelgel {majapahit mengalami keruntuhan }danghyang nirartha sempat sembahyang ke pura luhur pekendungan dan setelah usai beliau pergi kearah timur laut di sana beliau menancapkan sebuah tanda {sawen} lalu pergi ke wilayah mengwi ,karena merasa kehausan danghyang nirartha meminta air minum namun rakyat memberikan air dengan mempergunakan alat sehari hari { cedok },maka beliau mengatakan etika rakyat itu tani dan beliau bertanya apakah nama wilayah ini ? rakyat itu menjawab mengwi maka danghyang nirartha bertanya lagi apakah ada raja atau ratu ,maka rakyat itu menjawab ada disebelah utara maka akhirnya danghyang nirartha bersabda mulai saat itu pusat mengwi di beri nama mengwitani dengan batas di sebelah utara puri { bantas } dan sebagian mengwi utara di beri nama mengwi gede. maka beliau melanjutkan perjalanan ke utara setelah dijemput oleh utusan raja mengwi di mana beliau akhirnya mendapatkan penghormatan yang cukup maka beliau akhirnya menyarankan raja mengwi untuk membuat sebuah pura di sebelah timur laut pura luhur pekendungan yang telah di beri tanda { sawen} maka kemudian setelah selesai raja mengwi memberikan nama pura tersebut pura dangin sawen

Akhirnya beliau melanjutkan perjalanan ke Mengwi bagian utara ,karena rakyat amat berbakti maka dibangunlah duabuah pura bernama pura taman sari dan Pura Sakti serta memberikan anugrah kepada rakyat atas permohonannya untuk menjadi brahmana dengan satu sisia {rakyat} juga menetapkan daerah tersebut bernama Mengwi Gede.namun tri kahyangan tetap berada di selatan namun hal tersebut baru terlaksana atau terealisasi ketika I gusti agung putu mulai menjadi raja di mengwi pada tahun 1700M
Ketika danghyang nirartha melanjutkan perjalanan ke timur , rakyat di sana sedang melakukan pesta di mana mereka membuat babi guling begitu mendengar danghyang nirartha datang maka spontan rakyat tersebut menyembunyikan babi guling tersebut di bawah atap angkul-angkul seraya rakyat tersebut mengintip dari balik sebelah daun pintu {pintu kuadi} maka danghyang nirartha sedikit kesal, lalu mengutuk babi guling itu menjadi mentimun {timun guling} maka mulai saat itu daerah / desa tersebut di beri nama Gulingan dan bersabda rakyat di daerah itu tidak boleh menggunakan pintu berdaun dua.
masa akhir kekuasaan raja mengwi I datanglah seorang utusan Dalem Waturenggong yang bermimpi melihat tanah Garu ( harum ) di wilayah Mengwi , maka diutuslah seorang pejabat dari Arya Petandakan untuk menelusuri keberadaan tanah tersebut, namun beliau mengingatkan supaya Arya Petandakan setelah sampai di kerajaan Mengwi mohon ijin terlebih dahulu ke pada raja kerajaan Mengwi yaitu Kyai Made Tegeh yang bergelar Kyai Agung Anglurah Mengwi I. Setelah tanah harum itu didapat Arya Petandakan bukannya kembali ke Gelgel untuk melaporkan kepada Dalem Waturenggong justru tanah tersebut ditempati sendiri oleh Arya Petandakan. Maka Dalem Waturenggong setelah sekian lama menunggu akhirnya beliau bersama pengawalnya berangkat menuju kerajaan Mengwi dan langsung menuju Puri Mengwi bertemu dengan Kyai Agung Anglurah Mengwi I. Setelah diadakan perjamuan serta mendapat penjelasan yang cukup dari Raja Mengwi maka Dalem Waturewnggong berniat menemui Arya Petandakan. Namun di tengah jalan beliau berhenti karena beliau merasa tidak pantas lagi menempati tanah tersebut. Maka dari tempat itulah beliau bersabda bahwa Arya Petandakan tidak pantas dan tidak akan bisa menjadi raja untuk selanjutnya. Maka belakangan di tempat beliau ( Dalem Waturenggong ) bersabda itulah dibangun sebuah pura bernama Pura Dalem Waturenggong / pura batur oleh rakyat Mengwi pada masa pemerintahan Kyai gede tegal ( Kyai Agung Anglurah Mengwi II ) Kyai Agung Anglurah Mengwi II setelah ditinggal wafat oleh ayahnya beliau juga membangun sebuah pura di sebelah tenggara puri untuk mengenang kebesaran serta kemuliaan ayahnya sebagai pendiri kerajaan mengwi yang kemudian diberi nama Pura Pelet ( Ida Ratu Gede atau Ida Ratu Ngurah Agung ).
Pada saat terjadi pembrontakan Kyai Batan Jeruk terhadap Dalem Bekung maka kyai gede tegal ( Kyai Agung Anglurah Mengwi II ) bersama raja badung III { tegeh kori }serta raja tabanan { Cokorde winalwan } bersama sama menumpas atau mengusir kyai batan jeruk dari gel gel dan kyai batan jeruk melarikan diri kearah timur dengan menyeberangi tukad unda, maka atas jasa tersebut semua pemimpin pasukan yang membantu dalem bekung baik tabanan, badung, maupun mengwi mendapat hadiah berupa keris, namun raja mengwi mohon di berikan sesuatu yang oleh raja mengwi dilihat menyala di dalam gedong penyimpanan pusaka maka oleh dalem karena senjata itu belum sempurna dan berbentuk tombak sehingga diberi nama Ki baru pandak.
Kyai ngurah pemayun yang bergelar { kyai agung anglurah mengwi III } turut menggempur kekuasaan ngurah telabah di kuta bersama raja badung IV { tegeh kori } ketika ngurah telabah mendurhaka dengan melarikan diri serta meninggalkan prajurit ketika berhadapan dengan kebo mundar { lombok }, maka dari itu wilayah kuta merupakan wilayah mengwi juga, dari badung yang gugur pada saat itu adalah kyai putu tegeh yang merupakan paman dari kyai macan gading dan jambe merik serta gelogor.
Kyai ngurah pemayun yang bergelar Kyai Agung Anglurah Mengwi III menerima wilayah jimbaran dan kuta ketika puteri raja badung IV yang bernama kyai luh tegeh kawin dengan kyai ngurah agung, kyai ngurah pemayun (kyai Agung Anglurah mengwi III) melamar putri raja badung ke IV yang bernama kyai luh tegeh. Dimana kyai luh tegeh sebenarnya telah bertunangan dengan kyai jambe merik namun raja mengwi tetap melamar juga kepada raja badund IV { tegeh kori }. Kyai jambe merik adalah putera dari kyai jambe pole namun lamaran raja mengwi akhirnya diterima juga oleh raja badung , karena beliau berdua adalah mindon oleh raja badung kemengwi di anggap lebih pantas dan lebih agung maka diperintahkan juga untuk mencari hari baik namun raja mengwi tidak membuang kesempatan segera memboyong kyai luh tegeh untuk dipertemukan dengan puteranya sehingga kejadian ini memangkitkan kemarahan kyai jambe merik dan kyai macan gading serta ayahnya yaitu kyai jambe pole maka digempurlah kekuasaan tegeh kori di badung. Untuk itu raja badung IV dari dinasti tegeh kori jatuh dan beralih ke utara untuk tinggal sementaa di kapal. Karena permintaan bantuan kepada raja mengwi tidak dihiraukan dengan utusan kyai ketut timbul { kesah ke denbukit } maka dari itu raja badung IV bersama putera tertua beralih ke tegal tamu.
Beliau juga pernah melakukan perang tanding dengan raja Denbukit Panji sakti ketika anaknya dilamar atau dipinang yang bernama Gusti Ayu Rai.
Setelah runtuhnya tegeh kori akhirnya kyai jambe merik membangun puri di sebelah timur tukad badung bernama peken pasah, kyai macan gading membangun kuri pemecutan Di mana panji sakti ketika hendak memperluas wilayah kekuasaannya ke badung di mana di puri pemecutan yang berkuasa saat itu adalah kyai macan gading dengan seorang puteranya yang masih muda namun perkasa ,ketika peperangan berlangsung pasukan panji sakti dapat dipukul mundur oleh putera perkasa tersebut kemudian putera tersebut bergelar betara sakti pemecutan .
Ketika panji sakti mundur dari daerah badung maka panji sakti dapat mampir ke puri mengwi serta dijamu dengan baik oleh raja mengwi di situlah panji sakti melihat puteri raja mengwi yang bernama gusti ayu rai seketika itu pula panji sakti mohon pamit kepada raja mengwi untuk kembali ke denbukit Setelah sampai di Denbukit maka disitulah Panji Sakti mengutus patih kerajaan untuk segera meminang putri raja Mengwi yang bernama I Gustu Ayu Rai, namun sayang pinangan tersebut dianggap penghinaan oleh raja Mengwi, di situlah akhirnya raja Mengwi kembali mengutus patih tersebut untuk supaya Panji Sakti datang sendiri dan berperang ( Perang Tanding ) dengan raja Mengwi, dan jika bisa mengalahkan raja Mengwi barulah Panji Sakti bisa memboyong Gusti Ayu Rai untuk dijadikan permaisuri.
Setelah selesai patih melaporkan maka Panji Sakti cepat naik pitam dikerahkannya pasukan untuk segera berangkat ke kerajaan Mengwi. Baru sampai di perbatasan kerajaan Mengwi yaitu desa Perean dan Kuwum pasukan di hentikan untuk istirahat di situ pula seorang pembesar diutus untuk menghadasp raja Mengwi untuk segera menyerahkan Gusti Ayu Rai, Namun raja Mengwi kembali mengutusnya supaya Panji Sakti lekas kembali ke Denbukit jika takut perang tanding melawan raja Mengwi karena yang dikehendaki oleh raja Mengwi bukanlah pertempura antara prajurit dan rakyat maka Panji Sakti akhirnya melanjutkan perjalanan dan sesampainya di Mengwi Panji Sakti menyatakan siap akan perang tanding, namun raja Mengwi malah menyuruh Panji Sakti untuk beristirahat dengan baik supaya raja Mengwi tidak di anggap menyerang lawan dalam posisi lemah karena perang tanding akan dilaksanakan keesokan harinya. Di sana pula raja Mengwi menyuruh prajurit beliau untuk menjamu prajurit Denbukit serta beliau meyakinkan kedua belah pihat bahwa tidak ada perang antar prajurit atau rakyat. Untuk lebih meyakinkan prajurit Mengwi ikut bergabung bersama prajurit Denbukit. Setelah hari dan saat yang dinanti tiba baik raja Mengwi atau Panji Sakti bersiap-siap untuk perang tanding, setelah keduanya menyatakan siap, maka perang tandingpun di mulai. Beliau sama-sama tangkas serta cakap dalam taktik perang dan menggunakan senjata, setelah seharian penuh beliau berdua menguras keringat maka perang tandingpun dihentikan oleh raja Mengwi, maka raja Mengwi bersabda bahwa dalam perang tanding itu tidak ada yang kalah maupun yang menang disitulah Panji Sakti bersabda bahwa beliau juga mengakui keberadaan serta kesaktian raja Mengwi, oleh karena Panji Sakti merasa tidak mampu mengalahkan Raja Mengwi maka sore itu juga beliau mohon diri untuk kembali ke Denbukit namun hal itu dihalangi oleh raja Mengwi serta beliau bersabda kembali bahwa tujuan ayahmu ini perang tanding hanya supaya anakku Panji Sakti mengetahui serta tidak meremehkan keberadaan ayahmu sebagai raja Mengwi maka perang tanding harus dilaksanakan, jika anakku Panji Sakti kembali ke Denbukit sebaiknya lanjutkan perjalanan esok hari serta ajaklah adikmu Gusti Ayu Rai ikut serta ke Denbukit dan jadikan permaisuri.
Sekitar tahun 1639 sampai 1641 Sri Dimade memerintahkan ngurah Tabanan ( Kyai Wayan Pemadekan, Kyai Made Pemadekan dan Ngurah Tamu Pacung ) untuk menyerang Blambangan guna mengusir prajurit Mataram yang telah menduduki wilayah itu. Namun Kyai Wayan Pemadekan dapat ditawan dan dijadikan menantu oleh raja Mataram sehinggga berputra Raden Tumenggung. Setelah Kyai Made Pemadekan kembali dan tidak berapa lama meninggal di Tabanan maka ayahnya yang bergelar Cokerde Winawan menggantikan untuk sementara waktu mengungat cucu-cucunya masih kecil saat itu beliau bergelar Cokorde Mekules. Kyai Ngurah Agung ( Kyai Agung Anglurah Mengwi IV ) yang beristrikan Kyai Luh Tegeh dari Badung atas perintah Cokorde Mekules Tabanan supaya membantu Ngurah Ayunan dalam menghadapi kakaknya Ngurah Tamu ( Pacung ). Setelah berhasil mengalahkan Kyai Ngurah Tamu maka semua kekayaan diambil alih oleh Kyai Ngurah Ayunan dan semua prajurit ( wadua ) diambil alih oleh raja Mengwi ( Kyai Ngurah Pupuan )
Kyai ngurah agung yang bergelar Kyai Agung Anglurah Mengwi IV atas perintah Cokorde Mekules beliau membantu Ngurah Ayunan untuk menyerang kakaknya yaitu kerajaan Pacung ( Kyai Ngurah Tamu )
Yang berada di sebelah selatan ayunan dan sebelah uatara kapal, setelah kyai ngurah ayunan menang beliau bergelar kyai ngurah pacung sakti dan pindah dari ayunan ke perean .
Kyai ngurah tegeh { kyai agung anglurah mengwi V } dan gusti ayu bongan yang beribukan kyai luh tegeh putera raja badung ke IV, yang mana kemudian I gusti ayu bongan kawin lagi dengan putera kyai macan gading yang bernama betara sakti pemecutan maka dari itu wilayah kuta dan jimbaran kembali diserahkan kepada betara sakti pemecutan. Kyai agung anglurah mengwi V pernah menumpas pembrontakan diarah barat daya dari pandak gede ketika itu beliau meninggalkan sebagian prajuritnya ditimur hanya beliau beserta sebagian prajuritnya menyerang kearah barat namun begitu berhasil menumpas gerakan yang ada dibarat serta merta begitu melihat ke timur maka prajurit beliau { mengwi } juga dapat ditaklukkan oleh musuh maka dari itu beliau memutuskan dan bersabda kepada prajurit pengiring supaya mengikuti beliau berjalan kearah musuh dengan memangul pusaka ki baru pandak dengan catatan jika prajurit lawan tidak mendahului maka prajurit mengwi juga tidak boleh menyerang. Mana kala beliau berjalan di tengah tengah musuh yang telah memberikan jalan karena prajurit musuh melihat api besar sebesa kurungan ayam diatas pusaka yang di panggul oleh raja mengwi.
Kyai ngurah tegeh juga mendirikan pura bernama pura dalem sari di sebelah selatan puri , ceritanya dilanjukkan dibelakang
Kyai ngurah gede agung yang bergelar Kyai Agung Mengwi VI bersama Ngurah Cemenggon Beringkit beserta Ngurah Ngui { Petandakan } menyerahkan kerajaan serta mandat kekuasaan kepada Gusti Agung Putu di Belayu sebagai bukti setia Kyai Agung Anglurah Mengwi VI menyerahkan sebuah senjata tombak sakti bernama Ki Baru Pandak, maka pada saat itulah putera betara sakti pemecutan datang dan berteduh di bawah pohon beringin di depan pura desa beringkit dengan menyandarkan senjata pusaka sehingga menyebabkan beringin itu mengeluarkan asap maka oleh gusti beringkit beliau di antar ke puri agung pupuan mengwi namun karena kyai agung anglurah mengwi IV barusaja menyerahkan kekuasaan kepada I gusti agung putu di belayu atas kerajaan mengwi maka dari itu putera tersebut yang bernama kyai lanang pupuan ( kyai pupuan )di ajak tinggal bersama di puri Agung pupuan saren kelod oleh pamannya kyai ngurah gede agung dan salah seorang pengiring / abdi beliau dari keluarga penataran ( bandem ) di berikan tempat di sebelah utara puri .ketika I gusti agung putu pindah dari belayu ke bekak dan mengalahkan pasek badak maka keluarga penataran tersebut di haturkan untuk di jadikan bala putra { bata batu }.
Diceritakan kembali setelah Kyai Nyoman Pemedilan atau Kyai Macan Gading Wafat di Watuklotok dalam pertempuran menumpas pembrontakan Kyai Agung Dimade pada masa pemerintahan Dalem Dimade maka Kyai Agung Dimade setelah merasa terdesak oleh pasukan Panji Sakti dan Dewa Jambe maka mundur kearah barat dan sampai di Jimbaran yang merupakan wilayah kerajaan badung { pemecutan } sebagai tatadan I gusti ayu bongan puteri raja mengwi IV maka atas perintah cokorde sakti Pemecutan kepada bawahannya supaya mengusir kyai agung dimade dari jimbaran maka kyai agung dimade beralih ke kapal bersama putera yang ke II bernama kyai agung made anom karena memang raja kapal adalah saudaranya dan I gusti agung putu yang merupakan putera pertama dari kyai agung dimade tinggal di kuramas. Belakangan setelah panji sakti berputra Panji Wayahan dan memegang kekuasaan di Denbukit maka di kerajaan Mengwi terjadi pelimpahan kekuasaan dimana I Gusti Agung Putu cucu dari I Gusti Agung Dimade ( I Gusti Agung Badeng ) Setelah berhasil dalam semedi di Puncak Mangu maka beliau bersama 40 rakyat ( pengiring ) dari Marga berhasil merabas hutan yang angker dan beliau membangun puri, darisana kemudian daerah itu di sebut Belayu ( Bala Ayu). Nah disitulah Raja Mengwi yang bergelar Kyai Agung Mengwi VI menyerahkan kerajaan serta mandat kekuasaan atas kerajaan Mengwi yang terbentang dari sebelah barat dan utara beringkit sampai sebelah selatan Perean kepada I Gusti Agung Putu sebagai bukti setia dan tunduk maka Kyai Agung Anglurah Mengwi VI yang kemudian disebut Ngurah Pupuan menyerahkan sebuah senjata tombak sakti bernama Ki Baru Pandak. Belakangan beliau berpindah dari Belayu ke Bekak pada saat peresmian puri tersebut maka di situlah Pasek Badak diundang dan dikalahkan, lagi-lagi atas nasehat orang Cina maka puri di pindah lagi kearah tenggara serta tetamanan beliau yang bernama Taman Ganter diserahkan kepada rakyat dan orang Cina tersebut membangun taman baru di antaran dua sungai dengan cara bembendung di sebelah selatan maka kelihatan taman tersebut berada di tengah danau yang kemudian bernama Taman Ayun. Setelah kerajaan dirasa aman kehidupan rakyat makin baik dan tentram karena I Gusti Agung Putu mampu memimpin rakyatnya serta berwibawa. Ketentraman sedikit terusik oleh ulah Panji Wayahan yang ingin memperluas wilayah kerajaan Denbukit seperti cita-cita ayahnya kearah selatan. Di situlah I Gusti Agung Putu yang bergelar Cokorde Sakti Mengwi menjadi murka dan segera mengerahkan prajurit untuk menggempur kekuasaan Panji Wayahan di Denbukit, maka terjadilah pertempuran yang amat dasyat, yang mana akhirnya terjadi kekalahan di pihak Panji Wayahan. Disitulah akhirnya Panji Wayahan supaya Denbukit tidak dikuasai oleh Mengwi maka wilayah Blambangan yang dulu didapat oleh ayahnya kini di serahkan kepada raja Mengwi. Pada suatu hari raja Mengwi hendak melihat-lihat daerah jajahannya yaitu Blambangan, pada saat beliau hendak berangkat maka beliau menitipkan kerajaan Mengwi kepada raja Tabanan yang sekaligus paman dari hubungan nenek yaitu Gusti Alit Dauh di mana dulu gusti alit dauh pernah dibantu oleh kyai agung dimade { kyai agung badeng } ketika hendak mengalahkan kyai malkangin dengan bantuan kyai agung dimade { kyai agung badeng } kapal, yang kemudian bergelar Sri Megada Sakti. Setelah cokorde sakti mengwi datang dari Blambangan maka beliau bergelar Cokorde Sakti Blambangan.
Kini diceritakan kembali I Gusti Agung Putu setelah menerima senjata Tombak Sakti Ki Baru Pandak, lalu beliau mengutus kembali Ngurah Pupuan untuk mengempur kekuasaan Ngurah Batu Tumpeng ( Kekeran ) karena beliau teringat akan masa lalu dimana beliau pernah dikalahkan oleh Ngurah Batu Tumpeng atas nama raja Mengwi. Setelah Ngurah Batu Tumpeng kalah dan terbunuh ada sebagian keluarganya yang lari kearah barat.



»»  Read More...

27 February 2010

CERITA UPANISAD : UMA DAN DEWI EMAS

Atas keinginan siapa pikiran (mind) berfungsi? Siapa yang pertama meletakkan tenaga vital menjadi gerakan? Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan eternal. “Barman atau Spirit/Roh Transenden dan Imanen,” jawab para Rsi, yang terungkap dalam Kenopanisad. Ia tidak dapat dilihat oleh mata, tidak pula dapat didengar oleh telinga. Pun tidak diketahui oleh pikiran. Spirit adalah pelihat dari mata, pendengar dari telinga dan mengetahui mengetahui dari pikiran (mind). Melalui kekuatan spirit yang menembus ke segalanya yang menyebabkan semuanya berfungsi. Ia berada di luar jangkauan indria dan hanya bias dirasakan sebagai suatu keberadaan yang Agung melalui intuisi. Itulah spirit yang tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa dan bukan dewa-dewa yang disembah orang. Inilah ajaran Kenopanisad dan disajikan dalam sebuah alegori Uma, Dewi Keajikan Spritual.

Saat ini adalah saat diskusi. Pada menjelang malam ketika matahari tergantung di ufuk barat dan awan berkejar-kejaran dalam keremangan senja, seorang Rsi sedang duduk di bawah sebatang pohon di Asramanya bersama sekelompok pengikut atau murid muda usia yang duduk melingkarinya. Segalanya dalam suasana sederhana dan suci. Pantaslah tempat itu bermukim orang-orang suci yang terkenal karena kehidupan kontemplasi dan kerja yang baik. Persembahyangan malam baru saja selesai dan pemuda-pemuda tersebut mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Pada hakikatnya manusia adalah mahkluk yang mempunyai rasa ingin tahu. Ia tidak pernah puas dengan apa yang ia lihat. Ia ingin membuktikan hal-hal yang belum diketahuinya atau hal-hal yang di luar kemampuannya. Apakah hanya itu? Apakah tidak ada lagi di belakang tubuh yang nampak dan pikiran yang tak nampak? Maka pikiran selalu bertanya dan mengerti ke dalam alam sadar sampai tabir-tabir disingkarkan. Ia mempunyai sisi untuk mengetahui Realitas Tertinggi atau Terakhir yang disebut Brahman.
“Atas perintah siapa pikiran bergerak ke arah objek-objek? Siapa yang pertama menentukan kekuatan-kekuatan vital bergerak? Dan atas keinginan siapa mata, telinga dan tenaga ujaran berfungsi?
Itulah daftar pertanyaan yang luar biasa. Rsi pada Kenopanisad dengan tenang berkata, “Kekuatan yang mengillhami semua itu adalah satu dan tak nampak. Ia berada di belakang dan diluar semua itu yang berfungsi secara kasat mata. Ia mendengar pendengaran, melihat penglihatan dan mengetahui pikiran. Tidak juga indria-indria kita, pun pikiran benar-benar mmahami realitas. Mereka semuanya bergerak dan berpindah melalui tenaga yang meresap pada semua eksistensi. Energi yang memancar dari satu pusat itu adalah Tuhan dan apa yang disembah oleh manusia sebagai dewa-dewa semata-mata hanya merupakan refleksi-refleksinya. Ia hanya mengetahui dan menyadari kebenaran ini akan menikmati keabadian. Disini dan sekarang dalam kehidupan ini merupakan kesempatan untuk mengetahui kebenaran agung ini, kalau tidak, maka kesempatan yang besar ini akan hilang selamanya”
“Lalu, siapa yang begitu beruntung menyadari kebenaran ini yang anda bicarakan dan puji-puji? Bagaimana bisa mengetahui bahwa seseorang memiliki kebenaran dari kebenaran-kebenaran tersebut?” pertanyaan berikutnya.
“Baiklah,” Kata Sang Rsi. “Bukan ia hanya mengatakan aku mengetahuinya. Ia tahu sedikit . tetapi pencari yang sederhana dan rendah hati yang mulai dengan berkata “Aku tidak mengetahui” mengetahui kebenaran. Ia perlahan-lahan menerangi pikirannya seperti matahari terbit. Ketika sekali saja disadari. Spirit selalu hadir padanya melalui keempat keadaan sadar. Jiwanya tumbuh dan berkembang dari kekuatan ke kekuatan dan kesadarannya atas kehadiran yang tak ternoda dan membekatinya dengan kehidupan kekal abadi”.
Sang rsi lalu memandang muka beberapa murid-muridnya dan dapat melihat bahwa mereka belum memahami secara penuh apa yang telah disampaikan. Lalu, beliau menceritakan sebuah alegori/kiasan untuk menjelaskan ajarannya pada amalam itu.
“Sahabat-sahabat mudaku”, Iamulai. “Kalian telah mendengar perselisihan antara dewa-dewa dan raksasa. Pada suatu hari dewa-dewa menang dalam pertempuran melawan raksasa-raksasa. Kemenangan itu melalui bantuan Brahman. Tetapi karena kebodohannya, mereka menajdi takabur dan sombong”. Mereka berpikir, “Sungguh kemenangan ini adalah milik kita”.
Brahman muncul untuk mengetahui hal ini. Ia berpikir untuk mengajar mereka dan membuat mereka sadar terhadap keterbatasannya. Saat-saat mereka berada di tengah-tengah kenikmatan mereka. Ia tiba-tiba muncul dalam wujudnya. Tetapi bagaimana mereka tahu, buta karena keegoisan sifatnya yang suka dipuji-puji? Mereka melihat bahwa makhluk yang menakjubkan ada di depannya tetapi mereka tidak dapat mengenalinya. Lalu, mereka berpikir dengan serius untuk mengetahuinya dengan beberapa cara. Mereka mengutus Agni, dewa api, juga dikenal sebagai satu-satunya yang maha tahu, untuk menemukan siapa mahkluk itu sesungguhnya.
Agni mendekati makhluk yang aneh itu. Brahma bertanya, “Siapa anda? “Mengapa? Saya Dewa Agni yang terkenal, yang dikenal sebagai dewa yang mengetahui segalanya.
“Apabila demikian, boleh saya tahu kekuatan apa yang Anda miliki?”
“Baiklah, saya dapat menghanguskan segalanya yang ada di atas bumi dan di langit dan apa saja yang ada di tujuh dunia.”
“Brahman meletakkan sehelai daun rumput kering di depan Agni dan berata, “Bagus yang mulia, bakarlah rumput ini dan keharusan.”
Agni mencoba dengan seluruh kekuatanna untuk membakar habis. Tetapi ia tidak dapat apalagi menghanguskan. Ia merasa malu dan pergi kembali kepada dewa-dewa dan mengakui ketakmampuannya untuk mengetahui siapa sebenarnya makhluk yang aneh itu.
Vayu, dewa angin kemudian diminta agar pergi menemukan siapa dia yang menggagalkan usaha Agni. Vayu berangkat dengan kepercayaan diri yang besar dan berpikir bahwa ia akan berhasil.
Ketika ia mendekati Brahman, ia ditanya, “Siapakah anda?”
“Saya dikenal sebagai dewa angin. Saya juga dikenal sebagai dewa yang mampu menjelajahi langit yang maha luas”.
“kekuatan apa yang mencirikan diri Anda?” Tanya Brahman berikutnya.
“Saya dapat menghempaskan semua benda yang mengisi tanah dengan kebebasan yang dashyat,” kata Vayu.
“Nah cobalah ini. “Brahman meletakkan sekeping jerami di depan Vayu dan memintanya agar menghempaskannya.
Vayu mencoba kekuatannya untuk menghempaskan jerami itu tetapi tidak dapat memindahkannya dengan nafasnya. Ia juga akhirnya istirahat dan memberitahukan sahabat-sahabatnya bahwa itu berada di luar kemampuannya untuk mengetahui siapa orang aneh itu.
Para dewa lalu menghadap Rudra, raja dari dewa-dewa.
“Oh yang maha Agung, lihatlah apakah Paduka dapat memahami manusia unik ini yang telah mengalahkan dua dari kita.”
Indra, raja kuat dari dewa-dewa setuju. Ia mendekati makhluk tersebut . sebelum ia dapat berhubungan dengan ia. Brahman telah menghilang dan di tempat yang persis sama berdirilah seorang wanita cantik jelita. Ia adalah Uma, dewi dari pengetahuan spiritual, yang bercahaya emas.
Indra menjadi tegugah untuk bertanya kepadanya. “Siapa orang yang telah berdiri di sini sebelum Anda berdiri disini?”
Uma berkata, “Ketahuilah pikiran-pikiran yang sempit, ia adalah Brahman. Beliulah yang telah meraih kemenangan bagi Anda, kemenangan atas raksasa-raksasa. Banggalah kepadanya yang telah meraih kemenangan bagi Anda”.
Ketika Indra menyadari bahwa ia adalah Brahman menampakkan diri di depan dewa-dewa, lalu ia pergi mendekat teman-temannya itu dan mengatakan kebenaran. Mereka semua menyadari semua kebodohannya dan kagum kepada pengetahuan Sprit Yang aha Agung.
Spirit kilatkan petir membelah langit berawan daam kehidupan mata. Visi Brahman menerangi kesadaran kita seperti tertatik pada objek-objek kesukannya dan mengingatnya berulang-ulang, kita harus mengejar dan menangkap cahaya-cahaya realitas dan berkontemplasi pada mereka. Hanya realitas itu yang benar-benar dipuji di dunia Karena Tuhan Yang maha Esa, Brahman dan Realitas Akhir adalah sama.
Dengan menoleh sekitarnya, Sang Rsi berkata, “Inilah pengetahuan Brahman, realitas Radisional dan Inamen Kebenaran adalah tubuh dan tempat tinggal Brahman. Semua pengetahuanna bagiannya, kontrol diri, dan perbuatan baik merpakan pendukungnya.”
Bahagia dengan cara gurunya mengajar, sisya-sisya tersebut mohon diri kembali ke tempat tinggalnya masing-masing menerapkan apa yang telah mereka pelajari.

»»  Read More...