27 February 2010

CERITA UPANISAD : UMA DAN DEWI EMAS

Atas keinginan siapa pikiran (mind) berfungsi? Siapa yang pertama meletakkan tenaga vital menjadi gerakan? Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan eternal. “Barman atau Spirit/Roh Transenden dan Imanen,” jawab para Rsi, yang terungkap dalam Kenopanisad. Ia tidak dapat dilihat oleh mata, tidak pula dapat didengar oleh telinga. Pun tidak diketahui oleh pikiran. Spirit adalah pelihat dari mata, pendengar dari telinga dan mengetahui mengetahui dari pikiran (mind). Melalui kekuatan spirit yang menembus ke segalanya yang menyebabkan semuanya berfungsi. Ia berada di luar jangkauan indria dan hanya bias dirasakan sebagai suatu keberadaan yang Agung melalui intuisi. Itulah spirit yang tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa dan bukan dewa-dewa yang disembah orang. Inilah ajaran Kenopanisad dan disajikan dalam sebuah alegori Uma, Dewi Keajikan Spritual.

Saat ini adalah saat diskusi. Pada menjelang malam ketika matahari tergantung di ufuk barat dan awan berkejar-kejaran dalam keremangan senja, seorang Rsi sedang duduk di bawah sebatang pohon di Asramanya bersama sekelompok pengikut atau murid muda usia yang duduk melingkarinya. Segalanya dalam suasana sederhana dan suci. Pantaslah tempat itu bermukim orang-orang suci yang terkenal karena kehidupan kontemplasi dan kerja yang baik. Persembahyangan malam baru saja selesai dan pemuda-pemuda tersebut mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Pada hakikatnya manusia adalah mahkluk yang mempunyai rasa ingin tahu. Ia tidak pernah puas dengan apa yang ia lihat. Ia ingin membuktikan hal-hal yang belum diketahuinya atau hal-hal yang di luar kemampuannya. Apakah hanya itu? Apakah tidak ada lagi di belakang tubuh yang nampak dan pikiran yang tak nampak? Maka pikiran selalu bertanya dan mengerti ke dalam alam sadar sampai tabir-tabir disingkarkan. Ia mempunyai sisi untuk mengetahui Realitas Tertinggi atau Terakhir yang disebut Brahman.
“Atas perintah siapa pikiran bergerak ke arah objek-objek? Siapa yang pertama menentukan kekuatan-kekuatan vital bergerak? Dan atas keinginan siapa mata, telinga dan tenaga ujaran berfungsi?
Itulah daftar pertanyaan yang luar biasa. Rsi pada Kenopanisad dengan tenang berkata, “Kekuatan yang mengillhami semua itu adalah satu dan tak nampak. Ia berada di belakang dan diluar semua itu yang berfungsi secara kasat mata. Ia mendengar pendengaran, melihat penglihatan dan mengetahui pikiran. Tidak juga indria-indria kita, pun pikiran benar-benar mmahami realitas. Mereka semuanya bergerak dan berpindah melalui tenaga yang meresap pada semua eksistensi. Energi yang memancar dari satu pusat itu adalah Tuhan dan apa yang disembah oleh manusia sebagai dewa-dewa semata-mata hanya merupakan refleksi-refleksinya. Ia hanya mengetahui dan menyadari kebenaran ini akan menikmati keabadian. Disini dan sekarang dalam kehidupan ini merupakan kesempatan untuk mengetahui kebenaran agung ini, kalau tidak, maka kesempatan yang besar ini akan hilang selamanya”
“Lalu, siapa yang begitu beruntung menyadari kebenaran ini yang anda bicarakan dan puji-puji? Bagaimana bisa mengetahui bahwa seseorang memiliki kebenaran dari kebenaran-kebenaran tersebut?” pertanyaan berikutnya.
“Baiklah,” Kata Sang Rsi. “Bukan ia hanya mengatakan aku mengetahuinya. Ia tahu sedikit . tetapi pencari yang sederhana dan rendah hati yang mulai dengan berkata “Aku tidak mengetahui” mengetahui kebenaran. Ia perlahan-lahan menerangi pikirannya seperti matahari terbit. Ketika sekali saja disadari. Spirit selalu hadir padanya melalui keempat keadaan sadar. Jiwanya tumbuh dan berkembang dari kekuatan ke kekuatan dan kesadarannya atas kehadiran yang tak ternoda dan membekatinya dengan kehidupan kekal abadi”.
Sang rsi lalu memandang muka beberapa murid-muridnya dan dapat melihat bahwa mereka belum memahami secara penuh apa yang telah disampaikan. Lalu, beliau menceritakan sebuah alegori/kiasan untuk menjelaskan ajarannya pada amalam itu.
“Sahabat-sahabat mudaku”, Iamulai. “Kalian telah mendengar perselisihan antara dewa-dewa dan raksasa. Pada suatu hari dewa-dewa menang dalam pertempuran melawan raksasa-raksasa. Kemenangan itu melalui bantuan Brahman. Tetapi karena kebodohannya, mereka menajdi takabur dan sombong”. Mereka berpikir, “Sungguh kemenangan ini adalah milik kita”.
Brahman muncul untuk mengetahui hal ini. Ia berpikir untuk mengajar mereka dan membuat mereka sadar terhadap keterbatasannya. Saat-saat mereka berada di tengah-tengah kenikmatan mereka. Ia tiba-tiba muncul dalam wujudnya. Tetapi bagaimana mereka tahu, buta karena keegoisan sifatnya yang suka dipuji-puji? Mereka melihat bahwa makhluk yang menakjubkan ada di depannya tetapi mereka tidak dapat mengenalinya. Lalu, mereka berpikir dengan serius untuk mengetahuinya dengan beberapa cara. Mereka mengutus Agni, dewa api, juga dikenal sebagai satu-satunya yang maha tahu, untuk menemukan siapa mahkluk itu sesungguhnya.
Agni mendekati makhluk yang aneh itu. Brahma bertanya, “Siapa anda? “Mengapa? Saya Dewa Agni yang terkenal, yang dikenal sebagai dewa yang mengetahui segalanya.
“Apabila demikian, boleh saya tahu kekuatan apa yang Anda miliki?”
“Baiklah, saya dapat menghanguskan segalanya yang ada di atas bumi dan di langit dan apa saja yang ada di tujuh dunia.”
“Brahman meletakkan sehelai daun rumput kering di depan Agni dan berata, “Bagus yang mulia, bakarlah rumput ini dan keharusan.”
Agni mencoba dengan seluruh kekuatanna untuk membakar habis. Tetapi ia tidak dapat apalagi menghanguskan. Ia merasa malu dan pergi kembali kepada dewa-dewa dan mengakui ketakmampuannya untuk mengetahui siapa sebenarnya makhluk yang aneh itu.
Vayu, dewa angin kemudian diminta agar pergi menemukan siapa dia yang menggagalkan usaha Agni. Vayu berangkat dengan kepercayaan diri yang besar dan berpikir bahwa ia akan berhasil.
Ketika ia mendekati Brahman, ia ditanya, “Siapakah anda?”
“Saya dikenal sebagai dewa angin. Saya juga dikenal sebagai dewa yang mampu menjelajahi langit yang maha luas”.
“kekuatan apa yang mencirikan diri Anda?” Tanya Brahman berikutnya.
“Saya dapat menghempaskan semua benda yang mengisi tanah dengan kebebasan yang dashyat,” kata Vayu.
“Nah cobalah ini. “Brahman meletakkan sekeping jerami di depan Vayu dan memintanya agar menghempaskannya.
Vayu mencoba kekuatannya untuk menghempaskan jerami itu tetapi tidak dapat memindahkannya dengan nafasnya. Ia juga akhirnya istirahat dan memberitahukan sahabat-sahabatnya bahwa itu berada di luar kemampuannya untuk mengetahui siapa orang aneh itu.
Para dewa lalu menghadap Rudra, raja dari dewa-dewa.
“Oh yang maha Agung, lihatlah apakah Paduka dapat memahami manusia unik ini yang telah mengalahkan dua dari kita.”
Indra, raja kuat dari dewa-dewa setuju. Ia mendekati makhluk tersebut . sebelum ia dapat berhubungan dengan ia. Brahman telah menghilang dan di tempat yang persis sama berdirilah seorang wanita cantik jelita. Ia adalah Uma, dewi dari pengetahuan spiritual, yang bercahaya emas.
Indra menjadi tegugah untuk bertanya kepadanya. “Siapa orang yang telah berdiri di sini sebelum Anda berdiri disini?”
Uma berkata, “Ketahuilah pikiran-pikiran yang sempit, ia adalah Brahman. Beliulah yang telah meraih kemenangan bagi Anda, kemenangan atas raksasa-raksasa. Banggalah kepadanya yang telah meraih kemenangan bagi Anda”.
Ketika Indra menyadari bahwa ia adalah Brahman menampakkan diri di depan dewa-dewa, lalu ia pergi mendekat teman-temannya itu dan mengatakan kebenaran. Mereka semua menyadari semua kebodohannya dan kagum kepada pengetahuan Sprit Yang aha Agung.
Spirit kilatkan petir membelah langit berawan daam kehidupan mata. Visi Brahman menerangi kesadaran kita seperti tertatik pada objek-objek kesukannya dan mengingatnya berulang-ulang, kita harus mengejar dan menangkap cahaya-cahaya realitas dan berkontemplasi pada mereka. Hanya realitas itu yang benar-benar dipuji di dunia Karena Tuhan Yang maha Esa, Brahman dan Realitas Akhir adalah sama.
Dengan menoleh sekitarnya, Sang Rsi berkata, “Inilah pengetahuan Brahman, realitas Radisional dan Inamen Kebenaran adalah tubuh dan tempat tinggal Brahman. Semua pengetahuanna bagiannya, kontrol diri, dan perbuatan baik merpakan pendukungnya.”
Bahagia dengan cara gurunya mengajar, sisya-sisya tersebut mohon diri kembali ke tempat tinggalnya masing-masing menerapkan apa yang telah mereka pelajari.

0 comments:

Post a Comment